Nulis ya Nulis Aja Ngomong ya Ngomong Aja

Kali ini saya akan menulis mengalir saja tanpa beban katanya, menulis adalah salah satu cara supaya kia tidak cepat pikun. Mungkin, ini salah satu penyebab anak Gen Z sering lupaan, ya karena jarang nulis bahkan tidak pernah. Aktivitas yang dihabiskan hanyalah scroll, scroll, dan scroll. 

Majunya perkembangan digital manusia digiring untuk mengonsumsi informasi-informasi yang dikemas dalam konten singkat. Saya tidak habis pikir, ini bisa menjadi distraksi bagi konsumen media sosial. Hal ini yang menjadi alasan saya untuk uninstall tiktok dan menerapkan pembatasan konsumsi Instagram only one hours

Barusan, ya hari ini tadi saya menghadiri sebua Bimtek atau kepanjangan dari Bimbingan Teknsi seputar dunia kepenulisan. Walaupun secara goals adalah kepenulisan kearifan lokal Kabupaten Pati, tapi ilmu nulisya daging banget. Peserta yang datang bukan dari background orang sembarangan. Ada yang hadir sebagai penulis buku, youtuber, konten kreator, akademisi, bahkan wartawan, hingga masyarakat umum yang memiliki intensi di bidang kepenulisan. Bikin sedikit minder dan isecure. Tapi yasudahlah, kosongkan ilmu ketika ditempat baru. 

Saya duduk di kursi memandangi sekeliling ruangan, melihat betapa takjubnya lukisan dinding yang  tertata rapi di setiap sudut ruang. Semuanya bermakna dna bernilai sejarah. Ya, sejarah Bumi Pesantenan. Narasumber yang dihadirkan bukan  maen-maen, ada yang berasal dari akademisi dan penerbit buku. Omong-omong sudah lama tidak menerbitkan buku, setelah buku Kisah Ajaib Pejuang Sholawat, hingga kini masih mengumpulkan hasrat untuk mulai nulis. Hal yang paling sepele, apa yang pernah kita alami, kita rasakan, lalu ditulis di blog pribadi. Namun, berat juga rasanya jemari ini memulai. 

Narasumber pertama dengan nama Niam at Majha memberikan insight baru bahwa menulis itu ngalir aja tidak perlu dipikirkan harus sesuai ini dan itu. Ketika di awal sudah mulai nulis ya harus diselesaikan, karena kalau mandeg di tengah-tengah tulisan, nanti ceritanya akan  berbeda lagi. Nah ini saya sedang praktekkan "Nulis ya nulis aja tidak perlu dibaca ulang ketika nulis, baca kembali esok hari" kata narasumber pertama. Sangat menarik, bukan  hanya penyampaiannya tapi hadiah atau gift yang diberikan kepada penanya dan seorang yang membaca satu buku satu minggu (ini mah One Week One Book), kerennn..!!

Narasumber kedua, ganti topik kali ini lebih konsen pembuatan artikel ilmiah populer kearifan lokal Kabupaten Pati. Beliau menjelaskan secara rigit perbedaan antara esai dan artikel feature Dulu saya pikir artikel itu hnya satu jenis dimana isinya banyak data, bahasanya kaku dan tegang seperti sensasi masuk ruang sidang skripsweet. Namun, ada juga yang dikenal artikel feature. Bahasa lebih luwes, mudah dipahami, dan lebih dekat kepada pembaca. 

Pelaksanaan bimtek sukses membuat peserta penasaran terbukti banyak peserta yang aktif bertanya. "saya seorang redaktur, bagaimana tips supaya ketika buat tulisan tidak kaku, karena jujur saya sangat membenci menulis, saya lakukan itu karena terpaksa tuntutan pekerjaan". tanya salah satu peserta. Narasumeber kedua yaitu dengan Muhammad Zaki lalu menjawab "Tidak ada tips mas, karena dari awal njenengan sudah tidak suka menulis, mau saya kasih tips apapun pasti ga akan pernah cocok karena njenengan sudah bilang diawal menulis karena terpaksa, tuntutan pekerjaan tapi bisa kan?".

Memang semuanya harus diawali dengan keterpaksaan lalu berubah menjadi bisa dan akhirnya terbiasa. Satu kalimat yang saya ingat menjadi benang merah pada pertemuan  Bimtek ini, nulis ya nulis aja sama halnya ketika ngobrol dengan orang, ngomong ya tinggal ngomong aja.

Komentar

Postingan Populer